Pages

Mengenal Desa Labuan Lalar : Sunset Point


Saya rasa trip kali ini gak ada ruginya alias terpuaskan. Banyak melihat keindahan alam sepanjang perjalanan menuju Desa Labuan Lalar, Sumbawa Barat.  Desa ini sangat berkesan bagi saya pribadi, dari sejarah, landscape, sampai budayanya yang membuat saya tertarik datang ke kampung halaman bapak saya ini.

Menemukan apa yang saya cari yaitu sunsetnya yang membuat mata dan hati langsung jatuh cinta. Kalian bisa bayangin, tempat yang belum banyak orang tahu ternyata memiliki keindahan sunset yang sangat luar biasa. Gak kalah dengan di tempat terkenal lainnya.

Seperti trip-trip sebelumnya yang pernah saya tulis, kalo ke suatu tempat yang memiliki pantai yang unik dan kece, kurang lengkap rasanya bila gak mengenal lingkungan di sekitarnya. Saya sendiri mengenal desa ini hanya dari cerita datuk ( nenek saya ). Sebelumnya saya pernah dibawa kesini, tapi saat itu saya masih sangat kecil, jadi sudah lupa.

Cerita demi cerita saya senang mendengarnya, apalagi gaya datuk bercerita membuat betah berlama-lama duduk di sebuah kursi sambil minum kopi susu dengan sepiring pisang goreng. Dari pantai, pegunungan, masa kecil datuk yang penuh suka duka, rumah panggung, penduduknya, sampai bertemunya datuk cewek dengan datuk cowok disini ( datuk mulai curhat ). Semua cerita dikemas dengan manis sehingga membuat saya membayangi begitu indahnya tanah kelahiran datuk dan bapak.



Saya mencoba mempraktekkan saat saya membayangi suasana Desa Labuan Lalar dengan memakan sepiring pisang goreng ( gak makan piringnya lhoo ya ) dan segelas kopi susu hangat. Apa yang diceritakan oleh datuk ternyata sama. Benar-benar betah tinggal disini. Maklum, orang kota jadi lebih seneng pergi ke tempat yang tenang, indah dan jauh dari kesibukan perkotaan. 




Gak lama duduk-duduk santai di atas rumah panggung sambil menikmati pisang goreng dan kopi susu hangat, waktu sore pun tiba. Saya memutuskan untuk berkeliling kampung sendirian dengan berjalan kaki. Melihat anak-anak kecil yang lagi bermain di tepi pantai mengingatkan saya masa-masa kecil dulu.

Salah seorang anak datang menghampiri untuk minta difotoin. Dengan kamera yang saya bawa, saya memfoto mereka semua. Mendengar bahasa mereka, saya ingat dengan bahasa yang sehari-hari digunakan oleh datuk di rumah. Bahasa Bajo, bahasa nenek moyang dari desa ini. 








Berjalan sedikit ke arah utara desa, saya menikmati sore itu di sebuah dermaga kecil yang baru selesai dibangun. Bertanya-tanya tentang dermaga ini, salah seorang bapak paruh baya bercerita kalo dermaga ini belum diresmikan. Pantas saja sepi dan gak ada kegiatan bongkar muat barang dari kapal barang disini. Walaupun demikian dermaga ini sangat cocok untuk dijadikan tempat menghabiskan waktu sore itu. Saya memutuskan untuk menunggu senja tiba di dermaga ini.




Senjapun tiba. Matahari mulai turun dan perlahan-lahan menghilang. Meninggalkan seberkas cahaya yang sangat cantik. Penampakan siluet yang begitu indah, menambah kebahagiaan saat berlibur di desa ini.



Perlahan-lahan langit pun sudah mulai tampak gelap. Sunset yang sangat indah menutup cerita perjalanan saya dari desa ini. Malam terakhir di desa ini sebelum besok pagi balik ke Kota Mataram, Pulau Lombok. So Enjoy, Sunset is Beautiful.

Catatan :
Jalur menuju Desa Labuan Lalar : Kota Mataram - Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur - Pelabuhan Pototano, Sumbawa Barat - Seteluk - Kota Taliwang - Desa Labuan Lalar ( arah menuju ke Jereweh ). 

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar