Pages

Berpijak di Puncak Para Serdadu Kumbang, Desa Mantar


Cerita ngetrip kali ini saya akan berbagi pengalaman perjalanan melihat salah satu keindahan Nusa Tenggara Barat dari Puncak Desa Mantar, Sumbawa Barat. Pulau Sumbawa untuk saat ini sedang naik daun khususnya di dunia pariwisatanya. Gak heran banyak pecinta traveling yang berdatangan baik dari dalam negeri maupun luar negeri alias bule ke Pulau Sumbawa. 

Hari demi hari, wajah-wajah baru mulai bermunculan. Salah satunya yaitu Desa Mantar yang letaknya di Kecamatan Pototano, Sumbawa Barat. Desa yang mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia lewat Film Serdadu Kumbang yang tayang beberapa tahun yang lalu. Seiring berjalannya waktu Desa Mantar mulai sering dikunjungi karena keindahan alamnya yang sungguh kece. Dari atas Puncak Mantar kita bisa melihat deretan perbukitan alam Sumbawa Barat, Selat Alas, Pelabuhan Pototano bahkan sampai Gunung Rinjani, Lombok pun terlihat jelas dari Puncak Bukit Mantar.

Welcome to Mantar !!! 



Berangkat dar Kota Mataram membutuhkan waktu dua jam perjalanan menuju Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. Saya yang saat itu memimpin enam crew ( Mas Junk, Novha, Eza, Ali, Elga, dan Mbak Nisa ), menentukan titik pertemuan kami bertujuh. Maklum, kami gak semuanya berasal dari Kota Mataram. Ada yang dari Lombok Timur dan Sumbawa Besar. Anggota yang dari Lombok, ngumpulnya di Pelabuhan Kayangan, sedangkan yang dari Sumbawa Besar, menunggu di Pelabuhan Pototano. 

Berlayar menuju Pulau Sumbawa menggunakan kapal roro alias kapal ferry menyeberangi Selat Alas memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Sesampai di Pelabuhan Pototano, Sumbawa Barat, lengkaplah anggota semuanya. Setelah istirahat sebentar dan menyiapkan segala macam kebutuhan nantinya, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Tapir, KecamatanSeteluk, Sumbawa Barat yang menjadi pintu gerbang menuju Desa Mantar. 

Perlu diketahui, menuju Desa Mantar gaklah semudah yang dibayangkan. Kami diharuskan untuk menggunakan mobil ranger karena kondisi jalannya yang belum mulus ( full tanjakan ). Sewanya lumayan murah sih menurut saya, hanya 50 ribu antar jemput per orangnya. Dilihat dari kondisi jalannya yang lumayan memacu adrenalin kita, berbatu, kiri tebing dan kanannya jurang. Mantaapp !!!. 




Alhamdulillah... setelah hampir setengah jam perjalanan dari Desa Tapir, tibalah kami di perkampungan Desa Mantar. Disini kami harus mengikuti aturan yang ada, setiap tamu yang datang harus wajib lapor terlebih dahulu ke Kepala Desa Mantar untuk meminta ijin menginap di Puncak Mantar. 

Setelah meminta ijin, mobil ranger yang kami tumpangi melajutkan perjalanan menuju Puncak Mantar. Sungguh indah pemandangan dari sini. Melihat laut, perbukitan Pulau Sumbawa yang hijau, Gunung Rinjani, Pulau Lombok dan pulau-pulau kecil di Selat Alas. Sungguh bahagia perasaan kami saat itu. 



Puncak Mantar dulunya digunakan untuk syuting salah satu film Indonesia yaitu Serdadu Kumbang ( bukan promosi ). Film yang menurut saya sangat sukses ini, menjadikan Desa Mantar mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia. Gak hanya dikenal saja, tapi lama kelamaan banyak para pecinta traveling berlomba-lomba datang kemari termasuk saya sendiri ( he..he..he.. ) demi menikmati keindahan alam desa yang menjadi salah satu desa tertinggi di Pulau Sumbawa. Dan juga, Puncak Mantar dijadikan lokasi paralayang se-nasional. Jadi gak heran disini banyak para atlet paralayang yang sedang berlatih untuk persiapan tanggal 29 Mei 2016 untuk mengikuti festival Paralayang Mantar. Puncak Mantar salah satu lokasi paralayang terbaik di Indonesia karena angin disini selalu ada. 

Kembali ke laptop !!!

Mobil ranger mengantarkan kami sampai di pemberhentian terakhir yaitu di Puncak Mantar ( lokasi paralayang ). Perlu diketahui jarak antara Desa Mantar dengan puncak bukitnya sekitar 1 kilometer, gak terlalu jauh memang. Setelah berkemas-kemas, kami memutuskan untuk mendirikan dua tenda ( 1 tenda untuk cowok dan 1 lagi untuk cewek ). Serasa dihipnotis oleh keindahan alam Puncak Mantar, sehingga gak henti-hentinya kami dibuat takjub. 



Selesai berkemas-kemas dan tenda sudah terpasang, kami bertujuh gak mau melewatkan moment-moment terindah yaitu Sunset Mantar. Walaupun sunsetnya gak sempurna, tapi pemandangan siluetnya yang kece habis. Gunung Rinjani yang megah, jejeran pulau-pulau di Selat Alas yang selalu tersenyum kepada kami, angin sepoi-sepoi dari perbukitan yang selalu menyapa seakan-akan memberikan ucapan " Selamat Datang di Mantar !!! ".

Malam sudah tiba, saatnya menyiapkan makan malam. Moment demi moment gak akan kami lewatkan, sambil makan kami menikmati saat-saat malam hari di puncak. Melihat titik-titik terang dari cahaya lampu rumah-rumah penduduk dan cahaya-cahaya bintang yang gak mau kalah memberikan sinarnya. Seakan-akan memanjakan kami, memberikan penerangan di saat malam dari kegelapan. Berkumpul dengan para sahabat tercinta sambil curhat dan menikmati malam. Sudah larut malam, saatnya beristirahat biar besok pagi gak ketinggalan melihat sunrise.  

Cekidoott...ZzzZZZZzzzZZZzz









Pukul 04.00 WITA, kami semuanya terbangun. Memasak air dan mie rebus untuk sarapan. Ketika itu langit bagian barat masih gelap. Menunggu sunrise tiba sambil duduk-duduk di pinggiran bukit. Embun pagi membasahi jaket, udara pagi yang cukup dingin, cuaca yang cerah saat itu berpihak kepada kami. Pukul 05.00 WITA, langit mulai tampak kebiruan. Awan-awan putih semakin lama semakin terlihat. Waaahh,.. ternyata kami berada di atas awan. Kumpulan awan-awan putih seakan-akan mengalir seperti aliran sungai. Mengalir di antara celah-celah perbukitan tanah Samawa ( Pulau Sumbawa ). Berdiri di negeri atas awan, menikmati sinar mentari pagi. 





Berdiri di tepian bukit sambil memandang kumpulan awan putih yang sedang mengalir dari celah-celah perbukitan. Penuh harapan yang saya lontarkan kepada Sang Maha Pencipta. Sang Merah Putih pun akhirnya berkibar dari Puncak Mantar. Misi mengibarkan bendera merah putih di Mantar akhirnya menjadi kenyataan. Apalagi didukung dengan cuaca cerah, membuat hasil foto kami menjadi kece. 



Setelah menikmati sunrise di Puncak Mantar, kami segera menuju Puncak Pamanto ( Puncak Pemantau ). Puncak dengan ketinggian 585 mdpl ini menjadi salah satu daya tarik dari Desa Mantar. Tempat ini juga dijadikan tempat syuting film Serdadu Kumbang. Disini terdapat sebuah pohon yang diberi nama Pohon Cita-Cita oleh masyarakat Mantar sendiri. Konon katanya, pohon ini bisa mengabulkan harapan kita. Oleh sebab itu, dulu masyarakat Mantar beramai-ramai menggantungkan sebuah botol yang berisi kertas bertuliskan sebuah harapan bagi yang memiliki botol di beberapa bagian ranting pohon tersebut. 

Tapi sekarang sudah gak diperbolehkan lagi menggantungkan botol-botol di Pohon Cita-Cita karena ada beberapa alasan yang saya kurang mengetahuinya. Menurut saya sih, disamping merusak keindahan, bisa juga merusak lingkungan dan iman juga menurut agama yang saya anut.




gak jauh dari Pohon Cita-Cita, kami gak sengaja bertemu dengan seorang anak Mantar bersama kudanya. Kuda yang berwarna putih agak kecoklatan sedang memakan rerumputan hijau di ladang. Gak mau kehilangan kesempatan langka ini. Setelah meminta ijin untuk berfoto bersama kuda, kami satu persatu membuat foto sekece mungkin. Berfoto bersama kuda Mantar memberikan kebahagiaan tersendiri, yang penting fotonya jangan alay saja soalnya kuda gak bisa foto alay. 

Cerita perjalanan kami ke Desa Mantar menambah pengalaman saya pribadi ke tempat yang cukup jauh dari rumah. Bertemu dengan orang-orang baik, moment-moment yang baik walaupun kepala sempat kejedot di bawah rumah panggung salah satu warga desa. Selain itu, bisa menikmati alam Mantar bersama para sahabat tercinta.

I Love Mantar..... !!! Wonderful Indonesia 

Catatan :
-Rute : Kota Mataram - Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur - Pelabuhan Pototano - Desa Tapir, Kecamatan Seteluk - Desa Mantar.
- Rincian biaya perjalanan :
1.Tiket kapal ferry Rp. 50.000,- / motor
2.Sewa mobil ranger Rp . 50.000,- / orang ( antar jemput )
3.Bensin Rp. 50.000,- / motor matic ( pulang pergi )
- Menitipkan motor di Desa Tapir, kemudian dilanjutkan dengan menumpang mobil ranger menuju Desa Mantar.
- Membawa tenda, kamera, powerbank, senter, alat masak, jaket, kaos kaki dan kaos tangan, makanan dan minuman yang cukup atau kalo bisa dilebihkan bawanya. 

7 komentar:

  1. Subbahanallah.. pemandangan alamnya indah banget ya mbak
    btw, masuk ke puncak mantar itu dikenakan biaya berapa mbak?

    BalasHapus
  2. Maaf yg punya blog bukan mbak2, tp mas2..hehehe Klo k Mantar dri Desa Tapir qta sewa mobil ranger dgn tarif 50ribu per org ( pulang pergi )

    BalasHapus
  3. Maaf yg punya blog bukan mbak2, tp mas2..hehehe Klo k Mantar dri Desa Tapir qta sewa mobil ranger dgn tarif 50ribu per org ( pulang pergi )

    BalasHapus
  4. Wah, beruntung banget campingnya bisa dapat view awan kayak gitu. Fotonya jadi keren mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah pas cuaca bagus.. pngen menjelajah sumbawa lg hehehe

      Hapus
  5. Bagus ini tempatnya, boleh lah di ajak ke sini hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks udh mampir mas.. Insyaallah nanti Klo da ksempatan ksini lg, sya infokan.. :)

      Hapus