Pages

Explore Gili Kondo di Musim Panas


Gili terakhir sekaligus penutup perjalanan kami mengexplore keempat gili yang ada di kawasan Pulau Lampu yaitu Gili Kondo. Diantara keempat gili yang ada di kawasan Pulau Lampu, Gili Kondo merupakan gili yang paling diminati oleh pengunjung karena namanya sudah mulai dikenal sampai ke luar Lombok bahkan negara tetangga.


Menurut saya, setiap gili disini memiliki keunikannya masing-masing. Gili Petagan yang sebagian besar merupakan hutan mangrove dan memiliki sungai di dalamnya yang bisa dilewati oleh perahu boat, Gili Kapal yang merupakan dataran gundukan pasir yang timbul tenggelam tergantung pasang surut air laut, Gili Bidara yang memiliki perairan yang sangat cocok buat kegiatan snorkeling atau diving dan yang terakhir Gili Kondo yang memiliki panorama alam yang gak kalah dengan Gili Trawangan dan Gili Nanggu yang sudah terkenal sebelumnya.


Rasa letih kami setelah melakukan beberapa kegiatan mulai dari berenang di sungai hutan mangrove Gili Petagan, terdampar di Gili Kapal, dan snorkeling di perairan Gili Bidara. Saatnya kami beristirahat sejenak sekaligus makan siang di Gili Kondo. Semakin siang arus laut semakin kencang, Pak Solehun memberikan informasi kepada kami bahwa saat itu air laut lagi dalam kondisi pasang. Kami disarankan untuk gak buru-buru balik ke Pulau Lombok, tunggu sampai arus laut kembali normal yaitu pada saat sore hari. Siaap Pak, kami laksanakan !!! .


Ada beberapa kegiatan  yang kami lakukan disini, diantaranya bakar ikan hasil memancing kami *mancing di Pasar Ikan Labuan Lombok*, ada yang hunting-hunting spot yang bagus buat fotoan, dan ada juga yang menyempatkan diri untuk tidur siang. Satu per satu rombongan pengunjung datang ke gili ini untuk istirahat sejenak dari kegiatan berkeliling gili-gili seharian sebelum balik ke Pulau Lombok. 


Jujur saja, ini kali keempat *jika gak lupa* saya datang ke gili ini dengan membawa cerita yang berbeda-beda pastinya. Sedikit bercerita tentang Gili Kondo, tempat ini dulunya berdiri sebuah homestay yang dikelola oleh pihak swasta, tapi pada saat saya datang terakhir kali, homestay tersebut sudah hilang. Saya gak tahu lebih jelasnya mengapa homestay itu sudah gak ada lagi. Yang jelasnya gili ini sangat kece untuk dikunjungi, tapi jangan membuang sampah sembarangan ya teman-teman, Please..!!!



Terik matahari sangat menyengat karena saat itu sedang musim panas alias kemarau berkepanjangan *kata berita di tipi*, sehingga kami semua memutuskan gak snorkeling lagi alias ingin menikmati keindahan gili ini dari darat saja. Gili ini lumayan besar juga, ini dibuktikan dari hasil jalan-jalan saya bersama beberapa anggota yang ikut mengelililngi gili ini dari ujung ke ujung. Setiap spot yang kece gak saya lewatkan, jepret sana jepret sini dan hasilnya bisa dilihat di atas *dua contoh saja*.

 

What ?, saya melihat ada gili di seberang sana dan uniknya lagi ini gili bisa diseberangi menggunakan jalan kaki saja. Setelah ditelusuri lebih jelasnya dengan bantuan GPS dan mbah Google, gili ini bernama Gili Bageq. Kenapa dinamakan Gili Bageq ya, ini gili kan menyatu sebenarnya dengan Gili Kondo ? *pura-pura berpikir keras*. Sudahlah gak perlu dipertanyakan, yang jelas gili ini menjadi penemuan baru saya dan bonus buat kami dalam perjalanan mengexplore kawasan Pulau Lampu. 




Sekitar lima menit berjalan kaki menyeberangi gili ini, akhirnya kami sampai juga di Gili Bageq. Gili yang sebagian besar ditumbuhi oleh tanaman bakau alias mangrove ini gak kalah kecenya dengan gili yang lain. Gak snorkeling di Gili Kodo karena kondisi badan yang gak mendukung, mengexplore Gili Bageq pun jadi dan bagi saya sudah memberikan kepuasan tersendiri.


Sekitar setengah jam lamanya saya bersama beberapa anggota yang lain berada di gili ini. Sedangkan anggota yang lainnya sibuk dengan urusan dan kegiatan masing-masing. Dari sini saya gak bosan-bosannya selalu belajar bahwa kita bisa mencari kebahagiaan yang menurut saya bisa didapatkan dengan mau selalu berusaha dan terus berusaha dengan menambahkan doa sebagai bahan bakarnya. Berusaha mencari kebahagian yang sesuai dengan apa yang kita inginkan *ngomong opo toh lek ?*. 


Gak ada cerita lucu yang terjadi di Gili Kondo karena semuanya sudah kelelahan berkeliling beberapa gili yang ada di kawasan ini. Sebagai penutup dari cerita kami mengexplore kawasan gili-gili Pulau Lampu, saya hanya berpesan kepada diri saya sendiri dan teman-teman yang sempat membaca cerita ini bahwa kita semua yang mengaku cinta dengan alam dan dunia traveling harus selalu menjaga keindahan tempat ini dengan cara gak membuang sampah sembarangan, gak merusak apa yang ada di sekitar, dan selalu beretika baik saat berinteraksi dengan penduduk setempat dan orang lain. 

Sampai jumpa bersama cerita saya selanjutnya dan di tempat yang gak kalah kecenya juga.

Catatan:
- Segala informasi yang lainnya bisa baca juga di Jangan ke Gili Kapal, Nanti Gak Mau Pulang , Mengarungi Sungai Hutan Mangrove Gili Petagan , dan Spot Crew Patrick : Snorkeling di Gili Bidara

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

3 komentar:

  1. buat traveller pencinta pulau lombok yang suka jalan sendiri ala backpacker atau yang traveling dengan ngambil paket wisata lombok .. ada lagu yg pas sekali untuk tulisan ini.. judulnya : lombok i love you - #song #reggae #amtenar - makasih untuk tulisannya ini ya kakak. cheers

    BalasHapus
  2. Jadi pengen jalan" ke Lombok deeh ...
    Tunggu aku kakaaak ... :)

    BalasHapus
  3. Makasi listi udh mampir d blog mas.. Ayoook nabung yang banyak biar secepatnya bisa liburan k Lombok... :) Jangan kapok mampir d blog mas :)

    BalasHapus