Pages

Dua Jam Explore Pulau Namo, Sumbawa Barat


Masih dibuat jatuh cinta dengan deretan pulau-pulau yang ada di Sumbawa Barat. Salah satunya pulau yang saat itu saya baru mengetahui namanya " Pulau Namo " ( Buka Google Earth ).  Hari kedua setelah kami pulang menjelajah Pulau Kenawa, tiba-tiba saya melihat pulau yang gak kalah eksotisnya dari Pulau Kenawa ( baca juga "Menjelajah Si Gersang nan Cantik Pulau Kenawa). Akhirnya kami menyuruh Pak Amoy pemilik perahu boat menuju Pulau Namo karena dibakar oleh rasa penasaran kami.


Dari kejauhan tampak sebuah padang rumput yang menguning, perbukitan yang hampir gundul, hutan mangrove, dan yang buat saya penasaran adalah penampakan pohon yang berdiri sendiri di tengah padang rumput diaman daun-daunnya sudah meranggas.


Pulau Namo atau masyarakat Desa Poto Tano menyebutnya dengan sebutan Pulau Nyamuk memiliki terumbu karang dan biota laut yang gak kalah dengan tempat lain. Sekitar sepuluh meter dari bibir pantai pulau, dengan mata telanjang kami bisa melihat terumbu karang dari atas perahu disertai sekali dua kali kami melihat ikan yang lagi berenang di dalam air.


Kembali kenapa disebut Pulau Nyamuk, karena masyarakat sekitar mengetahui bila pulau ini banyak hidup serangga yang menjengkelkan yaitu nyamuk. Mereka baru muncul saat sore menjelang senja. Pak Amoy menantang kami untuk mendirikan tenda dan menginap di pulau ini di lain kesempatan. Boleh dicoba Pak, tapi harus bawa cream anti gigitan nyamuk yang banyak he..he..he..



Pulau Namo yang terletak di sebelah timur dan bertetangga langsung dengan Pulau Kenawa, menyimpan banyak sekali keindahan yang perlu teman-teman explore. Butuh sepuluh menit perjalanan dari Pulau Kenawa menggunakan perahu. Bagi yang suka dengan pertualangan, teman-teman bisa singgah di pulau ini. Walaupun gersang, pulau ini sangat kece.


Saya merasa bangga saat itu karena Pak Amoy mengatakan bahwa kami itu para petualang yang beruntung memiliki pikiran mau singgah di pulau ini. Sangat jarang para travelers yang mau singgah barang semenit atau sedetik sekalipun karena kondisi pulau yang gersang dan panas, ditambah lagi ada anjing galaknya. Bagi kami sih ini pulau sangat eksotis dan perlu dipromosikan di dunia traveling. 



Gak cukup hanya melihat dari dekat di atas perahu, kami bersepuluh mencoba untuk turun dari perahu kecuali Pak Amoy yang tetap diam di atas perahunya. Kami ingin membuktikan apa yang telah diceritakan oleh Pak Amoy soal pulau yang baru kami kenal ini, sama dengan cerita atau hanya basa basi Pak Amoy saja.



Akhirnya kami nekat untuk terus berjalan menyusuri rimbunnya rumput-rumput yang sudah kering menguning dan tajam, membuat kaki kami terasa gatal bila bersentuhan langsung dengan rerumputan tersebut. Tanah yang sudah kering, menciptakan debu ketika kami berjalan. Benar-benar panas dan gersang pulau ini.



Seperti berada di padang rumput yang gersang ala Benua Afrika, bedanya disini gak ada harimau atau gajah seperti yang ada ala acara discoveri chanel di televisi. Adanya cuma pohon yang bisa dibilang tandus tetapi terlihat gagah dan kuat berdiri sendiri tanpa ada pasangannya ( bukan curhat ). Inilah alasan saya untuk bersikeras ke pulau ini untuk sekedar foto bareng dengan pohon single ini. Terlihat kece di dalam foto ( abaikan modelnya ). 



Ternyata cerita Pak Amoy kepada kami disepanjang perjalanan menuju Pulau Namo gak cuma isapan jempol saja. Semuanya memang benar, dari anjing galaknya yang selalu menggonggong ke arah kami tetapi gak nampak batang hidung anjing tersebut sampai kondisi alamnya sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Pak Amoy.

Yang gak kami jumpai yaitu nyamuknya karena serangga menyebalkan itu keluar saat sore menjelang senja saja. Ketika kami semua asyik berfoto di tengah pulau, Pak Amoy memperingati kami jangan berjalan terlalu jauh soalnya banyak hal yang perlu diwaspadai. Akhirnya kami berpikir untuk gak terlalu jauh berjalan. Setelah dua jam menikmati eksotisnya Pulau Namo, saya memberi isyarat kepada anggota yang lain untuk kembali ke perahu dan melanjutnya perjalanan kembali ke Pelabuhan Poto Tano. 


Pulau Namo yang biasanya hanya dilihat dari kejauhan saat berada di atas kapal ferry atau di atas perahu, menyimpan banyak keindahan di dalamnya. Pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di pulau asing dan sepi ini bersama teman-teman, menambah daftar pulau-pulau yang sudah saya kunjungi. 

Dan yang perlu diingat, kita harus menjaga semua keindahan ini. Jangan merusaknya apalagi membuang sampah sembarangan. Sayang bila pulau sekece Pulau Namo yang masih perawan dirusak oleh tangan-tangan yang gak bertanggung-jawab. Pemerintah setempat harus memperhatikan dan mengelola pulau dengan benar dan harus dipromosikan di mata dunia.

Sebagai penutup cerita dua hari satu malam perjalanan kami dari Pulau Kenawa dan diakhiri dengan Pulau Namo, kami bersepuluh kembali ke Pelabuhan Poto Tano untuk melanjutkan perjalanan lagi balik ke Pulau Lombok. Terimakasi kami ucapkan atas keramahannya, semoga kita dapat berjumpa lagi dalam ngetrip Explore Sumbawa selanjutnya. Next Time.... 

Catatan :
- Hanya menambah biaya Rp.50.000,- saja dari paket Pulau Kenawa untuk mencapai Pulau Namo "Nyamuk"
- Sangat cocok untuk melakukan kegiatan snorkeling.
- Belum direkomendasikan untuk mendirikan tenda di pulau ini atau menginap.

Penulis : Lazwardy Perdana Putra
Kameramen : Lazwardy Perdana Putra & Zulkarnaen 

2 komentar:

  1. Wah keren banget pulau Namo.. jadi makin pengen traveling ke Sumbawa nih

    BalasHapus
  2. Thanks udh mampir d blog saya... Ya mbak, kece pulaunya... paling bagus bulan ini ksana cz cuaca cerah, padang gersang, gradasi warna air laut kece.. :)

    BalasHapus