Pages

Cagar Budaya Taman Sari dalam Jepretan Lensa Fix


Yang namanya traveling itu pasti menyenangkan, baik suka maupaun duka, pasti hal itu membuat kenangan yang gak bisa dilupakan seumur hidup. Seperti catatan yang saya tulis dalam perjalanan ke Kota Yogyakarta beberapa bulan yang lalu. Serasa kembali ke dalam nostalgia zaman masih menjadi mahasiswa dulu. Banyak pengalaman yang saya dapatkan di kota yang penuh dengan warisan budaya ini, baik itu pengalaman paling menyakitkan sampai yang membuat selalu tersenyum jika mengingatnya.


Dengan dukungan dari hasil jepretan menggunakan lensa fix, kali ini saya akan menulis tentang kunjungan ke Cagar Budaya Taman Sari yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi, dari bangunannya sampai sejarah budayanya. Travelers pasti sudah tahu banyak tentang berbagai macam tempat wisata di Yogyakarta, dari deretan pantainya, Gunung Merapinya, budayanya, makanannya dan karakteristik masyarakatnya. Semuanya hampir lengkap ada di kota yang terkenal dengan masakan gudegnya ini.


Taman Sari terletak di tengah Kota Yogyakarta, gak jauh dari Keraton Kesultanan Yogyakarta dan Alun-Alun Kidul. Sedikit berbicara soal sejarah dari Taman Sari yaitu pada saat Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa setelah Perjanjian Giyanti.


Pangeran Mangkubumi yang kemudia bergelar Sultan Hamengkubuwono I membangun keraton yang terletak di antara Gunung Merapi di utara dan Pantai Parangtritis di sebelah selatan.Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena sudah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan arsitek berkebangsaan Portugis yang bernama Demak Tegis untuk membangun sebuah istana yang terletak kurang lebih 500 meter di sebelah selatan keraton.



Istana yang dikelilingi oleh danau buatan "segaran" dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di sekitar danau buatan yang sekarang dikenal dengan nama Taman Sari. Tapi sayang pada saat saya kesana, air di danau buatannya terlihat penuh ditumbuhi lumut-lumut, sehingga menimbulkan kesan keruh berwarna kehijauan lumut. Mungkin saat itu belum dibersihkan, walaupun demikian gak membuat nilai seni yang terdapat di Taman Sari pudar, justru semakin terlihat eksotik dan penuh dengan rahasia masa lalu.


Terdapat lorong bawah tanah yang menghubungkan antara bangunan utama dari Taman Sari menuju Masjid Kuno yang terletak di bawah perkampungan penduduk, konon disini tempat Sultan bersama abdi dalem melakukan shalat berjamaah pada saat itu. Lorong bawah tanah yang sangat unik sehingga kita akan terbawa ke dalam suasana pada masa-masa dahulukala. Kamera segera saya hidupkan untuk mengambil beberapa gambar yang bisa saya bawa pulang kembali ke rumah.


Melewati perkampungan para penduduk di tengah bangunan Taman Sari, saya bertemu dengan penjual Es Dawe Ayu Banjarnegara yang sedang duduk santai sambil menghisap sebatang rokok. Saat itu cuaca cukup panas. Ada keinginan untuk membeli barang satu gelas, tapi niat itu saya urungkan karena suatu alasan tertentu alias saat itu saya lagi kurang enak badan.


Sampailah saya di tengah-tengah masjid kuno Taman Sari. Suasana saat itu sangat ramai oleh para pengunjung. Saking ramainya saya bersama beberapa teman memilih untuk bersabar menunggu mengambil foto yang terbaik. Antrian berfoto semakin lama semakin ramai saja, kami memutuskan untuk tetap bertahan bersabar barang beberapa menit kedepan. Akhirnya kesempatan itu datang dan kami gak menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk mengambil foto yang terbaik menurut kami.


Saat kembali menuju pintu masuk utama Taman Sari, saya melihat beberapa rombongan tourist asing yang lagi mendengar penjelasan mengenai tempat ini oleh tour guide mereka. Akhirnya saya melihat bule di Kota Yogya dari beberapa hari di Yogya, saya baru pertama kali melihat bule di tempat ini. Jadi kangen kampung halaman saya di Lombok. Sempat menduga-duga bahwa para rombongan tourist asing ini bisa dipastikan berlibur ke Pulau Lombok juga, Ah sudahlah cuma dugaan saja.


Berjalan kaki melewati setiap gang kecil di tengah perkampungan yang letaknya gak jauh dari Taman Sari dan Pasar Ngasem ini. Para penduduk kampung yang sangat ramah menyapa setiap pengunjung yang melewati rumah-rumah mereka. Disini letak saya semakin jatuh cinta dengan kota ini, dimana di kampung halaman saya, jarang sekali menemukan orang yang ramah dengan orang asing. Tapi di Yogyakarta, hal itu gak berlaku, setiap penduduk selalu ramah dan gak segan-segan menyapa orang yang baru mereka kenal bahkan sampai akrab dengan kita.


Gak jauh dari area Taman Sari tepatnya di bagian utara dari bangunan utama, terdapat beberapa rumah-rumah penduduk yang didesain sangat unik. Dicat berbagai macam warna serta tulisan yang sangat menarik bagi saya. Saya baru sadar bahwa rumah yang bercat warna-warni tersebut adalah tempat kursus melukis, baik melukis batik, melukis di atas kanfas serta melukis tato. Sebenarnya ini sangat menarik bagi saya, ingin rasanya memasuki rumah tersebut tetapi kaki ini ragu untuk bergerak ke dalam bangunan. Next Time saja... 


Hanya sempat mengambil beberapa gambar untuk saya bawa pulang ke Lombok. Hari itu sudah mengabarkan bahwa saya harus cepat-cepat balik ke penginapan karena penerbangan menuju Pulau Lombok tinggal 3 jam lagi. Setelah lumayan puas berkeliling di Cagar Budaya Taman Sari, saatnya saya mengucapkan salam perpisahan untuk Kota Yogya. Sampai bertemu di lain kesempatan lagi. Amiiin..

Catatan :
- Waktu berkunjung mulai pukul 08.00 - 14.00 WIB
- Tiket masuk Rp 3.000,- ( Warga Negara Indonesia ), Rp.7.000,- ( Warga Negara Asing )

Penulis : Lazwardy Perdana Putra
Kameramen : Kurniawan Hidayat
                     Lazwardy Perdana Putra


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar