Pages

Tari Peresean, Festival Senggigi, Lombok 2014


Kali ini saya memiliki cerita tentang jalan-jalan ke acara Festival Senggigi 2014 yang diadakan di daerah Pantai Senggigi. Kebetulan ada acara yang membuat saya tertarik pada saat itu  yaitu pertandingan " Peresean ". Wah, kebetulan sekali sudah lama gak pernah nonton Peresean lagi semenjak dari kecil. Jika bisa dihitung-hitung, saya baru nonton acara ini satu kali. Berarti bisa dibilang baru nonton dua kali sama yang sekarang. Begitu langkanya bagi saya untuk memperoleh kesempatan untuk menonton tarian adat yang berasal dari Pulau Lombok ini.  

Perisaian atau nama kerennya Peresean ini merupakan petarungan antara dua orang laki-laki yang bersenjatakan pemukul yang terbuat dari rotan ( penjalin ) dan dilengkapi oleh perisai yang ter buat dari kulit kerbau yang sangat tebal ( ende ) berbentuk bujur sangkar. Peresean ini termasuk tarian daerah Lombok, dimana tradisi ini dilakukan oleh Suku Sasak yang ada di Pulau Lombok. Dimana tarian ini terdiri dari petarung yang disebut pepadu dan wasit yang disebut pakembar. Dan uniknya Peresean ini diadakan di salah satu ruangan di gedung dekat pasar seni, karena biasanya pertandingan ini dilakukan di tanah lapang atau di pinggir pantai.

Menurut dari salah seorang yang berhasil saya tanyai mengenai sejarah tarian ini. Beliau mengatakan peresean ini sudah ada di Pulau Lombok pada abad ke-13. Dulunya tarian ini dipergunakan oleh masyarakat Suku Sasak untuk melawan para penjajah dan musuh. Tarian ini sudah menjadi tradisi sampai sekarang dan dianggap keramat oleh masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok.

Memang tradisi ini gak boleh sembarangan dilakukan oleh siapa saja yang bukan ahlinya dan dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja tergantung dari kepercayaan adat di Lombok. Wah, ini rasanya sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. Selain bisa mendapatkan menonton secara langsung, saya juga bisa bertanya kepada ahlinya mengenai asal usul tradisi ini. Jadinya gak perlu susah-susah mencari di google mengenai Tari Peresean ini.




Gak cukup itu saja yang saya tanyakan, saya penasaran aturan main dari tarian yang dipertandingkan ini apa saja. Akhirnya saya mendapat jawabannya setelah bapaknya yang gak perlu saya sebutkan namanya, menyuruh saya untuk memperhatikan jalannya pertandingan dari awal sampai akhir. Rasa penasaran itu terpecahkan juga, ternyata si pakembar atau wasit sebelum memulai jalannya pertandingan, mereka mencari salah satu seorang remaja laki-laki yang dianggap masih muda dan sehat dalam kondisi fisik untuk dijadikan petarung atau pepadu. 

Hampir saja saya yang dicalonkan jadi pepadu, tapi saya gak mau soalnya gak berani, "Next Time lah pak broo".  Setelah memperoleh dua orang petarung yang dianggap wasit seimbang, maka para petarung dipakaikan ikat kepala ( sapuq ) dan ikat pinggang sebagai bebadong. Setelah dianggap siap semua, segera pertandingan dimulai. 



Pertandingan dipandu pula oleh musik tradisional yaitu musik gamelan khas Lombok. Gamelan Lombok terdiri dari gendang tabuh seperti gendang beleq tapi agak kecil, seruling, gong dan rincik yang dimainkan secara cepat untuk membuat seru suasana pertandingan. Selain itu ada ada yang melantunkan sebuah syair atau kalimat-kalimat mistis yang dianggap keramat untuk membuat petarung gak merasakan sakit jika terkena pukulan dari musuh.

Pertandingannya sangat menarik ditonton, bukan hanya para petarung saja yang menikmati jalannya pertandingan, tapi yang menonton juga, gak habis-habisnya untuk berteriak tegang saat para petarung saling menyerang dan memukul musuhnya dengan semangat yang menggebu-gebu karena efek dari musik yang dimainkan dan kalimat-kalimat mistis yang ditembangkan. 

Gak hanya orang lokal saja yang antusias untuk menonton, tapi para wisatawan mancanegara juga gak mau kalah untuk menonton tradisi yang sangat langka waktu penyelenggaraannya ini. Saya sangat bersyukur bisa kesampain menonton secara langsung tarian tradisi yang berasal dari Pulau Lombok ini. Mantap pokoknya mas / mbak broo.... :)

Sampai jumpa di cerita saya selanjutnya :)




Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar