Pages

Asem Manis Road to Tugas Akhir " Skripsi "

Sebagai alumni dari salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, saya paham gimana rasanya menjalani kewajiban sebagai seorang mahasiswa yang jauh dari orang tua dan keseringan merasakan yang namanya penyakit " Kanker " alias " Kantong Kering " kalo udah waktunya. Perjuangan seorang mahasiswa yang tiap hari naik angkot pergi ke kampus dengan tujuan yang mulia " kuliah " dan tujuan sampingan " tebar pesona buat memikat hati wanita " sudah saya rasakan semuanya. Dari kemaleman pulang kuliah, kehujanan nyari tempat jual pulsa buat sms si doi, kelaperan sampai kehilangan hp juga pernah. Beda banget pokoknya dari zaman SMA " masa cabe-cabean dan terong-terongan " apa-apa tidak diambil pusing, cuman pusingnya pada saat Ujian Nasional sama jauh dari si doi. Kalo kuliah itu apa-apa harus sendiri, kecuali klo naik angkot " harus diantar pake angkot karena gak bisa bawa angkot sendiri ". Butuh perjuangan dan semangat 45 yang disertai dengan niat yang tulus dan doa pastinya.

Awal semester 1 dan 2 adalah masa kejayaan buat kita sebagai seorang mahasiswa karena berbangga diri bisa masuk ke jurusan yang diinginkan serta kuliahnya di Yogyakarta. Apalagi mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta sangat diperhitungkan oleh orang luar Yogya, jadi bisa buat pamer di calon mertua. Masuk di semester 3 - 5 adalah masa kebosenan, yang tadinya rajin masuk kuliah dan datang sebelum dosen tutup pintu kelas dari dalam, jadi sering sms temen kelas buat TA " Titip Absen " dan kalo ada niat kuliah, keseringan tutup pintu kelas dari luar " disuruh sama dosen " dan akhirnya nongkrong di kantin dengan pasang muka bengong " kesepian " karena temen-temen yang lain masih ada jam kuliah. Kalo beruntung sih ada saja yang bening-bening lewat di depan kantin, dari wajah yang imut-imut sampai wajah amit-amit " pake bedak ketebelan" jadi hiburan tersendiri, asalkan jangan dosen-dosen perempuan juga yang dipelototin, ntar jatuh image sebagai pecinta wanita. 

Masuk di semester 6 adalah masa pembentukan karakter diri, dari yang tadinya agak kalem, sekarang sudah bisa ngerayu temen-temen cewek buat bisa diajak dinner atau nonton bioskop apapun filmnya gak penting, asalkan bisa jalan bareng gebetan aj. Yang tadinya pernah nyontek kalo otak lagi buntu pada saat ujian semesteran, jadi suka minta jawaban temen bila waktu ujian sudah mau berakhir ( Sama Saja ). Tapi kalo dipikir-pikir hasilnya tidak memuaskan seperti kita ngejawab dengan jawaban kita sendiri. Jadi buat temen-temen yang masih merasakan yang namanya ujian, jangan pernah yang namanya nyontek atau dicontek karena itu adalah sikap yang tidak terpuji, Alaaaaahhh sok Idealis nih.  Masuk di semester 7, itu adalah semester yang paling galau sedunia. Galau karena melihat temen-temen seangkatan bahkan dramatis melihat adik-adik tingkat yang tanpa pemirsi buat langkahin kakak tingkatnya satu per satu untuk lulus duluan.he..he..he.. Alhamdulillah akhirnya barengan juga wisudanya dengan adik-adik tingkat yang " sok rajin dan pinter " dan bahagia bisa bareng pake baju toga dengan temen-temen satu perjuangan.


                                  " Pasang muka imut disaat otak lagi mumet dan amit-amit"

Sebelum merasakan yang namanya wisuda, saya masuk di dunia skripsi. Kata orang sih, skripsi itu ada enak dan gak enaknya. Enaknya, kita diliat sama orang tua dan keluarga bentar lagi mau lulus kuliah dan punya keistimewaan tersendiri karena kalo minta apa-apa sama orang tua pasti dikasi asalkan lagi butuh Contoh :  " Ma, isikan pulsa buat nelpon dosen pembimbing ! Terimakasi ". Padahal gak semua pulsa dihabiskan buat nelpon si dosen, tapi kebanyakan dipake buat sms atau beli paket bbm ke si doi. Masuk ke gak enaknya skripsi. Gak enaknya, kita terlalu banyak ngeluarin biaya dari biaya bensin motor ( Akhirnya dibelikan motor sama ortu ) sampai biaya masuk lab dan beli bahan buat penelitian skripsi. Bisa dibilang zaman skripsi adalah zaman lagi bokek. Yang paling tidak enaknya itu kalau hasil penelitian yang didapat tidak sesuai dengan harapan kita dan dosen pembimbing, satu dua kali sih gak masalah, tapi ini udah berkali-kali dan hasilnya tetap aj nihil. Butuh kesabaran, apalagi kalo ngeliat temen-temen yang berhasil rasanya pengen cepet-cepet selesai. 

Punya waktu 2 bulan buat nyelesaiin penelitian akhirnya hasilnya bisa dijadikan pembahasan di dalam skripsi walaupun hasilnya kurang bagus, tapi hati berkata " langsung ngajuin seminar proposal saja biar cepet sidang". Alhamdulillah karena doa dari semuanya, saya akhirnya bisa menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya, bukan tepat waktu. Yang tadinya galau mulu selama hampir 3 bulan, sekarang galaunya sudah berubah menjadi tegang karena bentar lagi mau seminar proposal dan dosen pengujinya gak sesuai dengan harapan, tapi ada dosen pembimbing jadi bisa berharap skripsi saya lolos dan lanjut ke tahap sidang skripsi " pasang muka melas dengan senyuman " . Awalnya sih grogi, bukan karena dosen penguji atau isi tampilan slide skripsi tapi groginya banyak temen-temen cewek yang nonton bahkan salah satu diantara mereka ada yang saya taksir. Seiring berjalannya waktu, seminar proposal saya selesai juga dengan hasil skripsinya dilanjutkan di sidang. Alhamdulillah sekali, yang tadinya tegang kalo skripsinya disuruh ulang atau ganti judul, jadi berubah menjadi senang dan tegangnya masih ada karena skripsi dilanjutkan di sidang skripsi. Awalnya sih gak percaya, tapi jadi percaya pada saat salah satu dosen penguji saya berkata " Waiting for you, road to Final " dari kalimat itu saya percaya bahwa dosen penguji menunggu saya di sidang skripsi yang diadakan satu bulan kedepan.  Skripsi yang saya kerjaikan murni sendiri dari sampul depan sampai bab 5 terasa sangat berharga buat hidup saya, karena dengan beberapa lembar kertas yang ada tulisan dari buah pikir saya sendiri yang dijadikan menjadi sebuah buku yang sederhana, bisa mengantarkan ke kehidupan selanjutnya. Dan saya sadar akhirnya saya bisa melakukan ini, padahal dulu pada waktu saya SD sampai SMA kalo melihat kakak-kakak lagi ngerjain skripsi memakai mesin tik " alat ngetik zaman dulu " rasanya berat sekali dan mumet keliatannya, tapi pada saat udah ngejalaninnya jadi terasa berharga. Saya sadar kalo kita mau berhasil itu harus melewati yang namanya rintangan yang berat dengan jalan yang berkelok-kelok. Kalo perjalanan kita tidak ada rintangannya, itu bukan namanya berhasil tapi mencari aman buat hidup. 

Akhirnya waktu sidang skrispi telah datang, saya datang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan buat mempersiapkan semuanya dari persiapan konsumsi buat dosen penguji dan temen-temen yang setia menunggu di luar ruang sidang sampai persiapan mental yang jauh lebih penting. Sekitar 15 menit saya persentasi di hadapan tiga dosen penguji, kemudian 1 - 1,5 jam mengalami yang namanya perang sebenarnya yaitu menghadapi serangan dari pertanyaan dosen penguji yang bertubi-tubi, tapi Alhamdulillah semuanya bisa dijawab dengan jawaban yang seidelais mungkin dengan pasang muka melas. Setelah 1,5 jam ditanya-tanya, akhirnya dosen memberikan keputusan hasil sidang saya. Saya dinyatakan lulus dengan nilai A, pertama sih saya dikerjain sama salah satu penguji. Beliau berkata " Kamu kalo lulus mau ngapain ? " Saya bilang saja " Saya mau lanjut ke profesi bu dan balik ke kampung halaman saya di Lombok sana". Kemudian beliau berkata " Kalo kayak gtu kamu gak usah lanjut profesi dulu, kamu urus saja skripsimu sampe kelar". Saya bengong tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saya pikir, saya disuruh ngulang sidang, tapi gak lama kemudian beliau berkata lagi " Kamu urus saja skripsimu dulu ampe kelar dijilid dan ngajuin yudisium baru daftar profesi, Kamu dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan". Alhamdulilllah... akhirnya saya lulus juga. 


" Narsis dulu menjelang masuk ke dalam ruang wisuda "

Setelah lulus dari sidang, saya mengurus buat yudisium. Kebetulan yudisium akan diselenggarakan 2 minggu lagi, jadinya saya persiapkan secepat mungkin. Akhirnya saya bisa yudisium tepat pada waktunya. Dan 2 bulan kemudian saya wisuda dimana hari itu hari bersejarah buat saya karena hari itu buat pertama kalinya merasakan yang namanya wisuda dengan didampingi orang tua serta keluarga disaat moment-moment terindah itu sangat menyenangkan. Asem manis perjalanan saya hingga mendapat gelar sarjana farmasi dari salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta akhinya selesai juga. Bahagia rasanya dapat gelar sarjana dan bisa membahagiakan orang tua karena apa yang orang tua harapin jadi kenyataan, tapi sedihnya ya kangen sama yang namanya skirpsi " sok kangen ". Sedikit cerita pengalaman dari saya semoga bisa dijadikan inspirasi buat temen-temen yang membacanya. Yang baiknya diambil, yang jeleknya jangan diambil cukup dibaca saja. Salam Olahraga " Ala Alm.Ricky Joe ".

Penulis : Lazwardy Perdana Putra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar