http://pay4shares.com/?share=11335
http://pay4shares.com/?share=11335

Pages

Minggu, 04 Desember 2011

Interaksi Obat



Interaksi obat adalah Perubahan efek dari suatu obat yang dapat terjadi apabila obat itu diberikan bersamaan dengan obat lain.

A.    Interaksi Farmakokinetika
1.      Perubahan Absorpsi GIT
a)      Perubahan PH
Contoh : antacid, H2 antagonist (Ranitidin, famotidin) meningkatkan PH sehingga jika digunakan bersamaan dengan tablet Ketoconazole (asam) maka akan terjadi penurunan dissolusi dari ketoconazole.
b)      Perubahan flora bakteri intestinal
Contoh : Digoksin yang digunakan bersamaan dengan antibiotik akan terjadi peningkatan konsentrasi digoksin dan peningkatan toksisitas. Karena antibiotik akan membunuh bakteri flora normal yang digunakan untuk mengurai digoksin.
c)      Chelat dalam bentuk kompleks
Contoh :
-          Tetrasiklin berinteraksi dengan preparat besi (sangobion) , maka tetrasiklin tidak berefek.
-          Tertrasiklin dengan susu (Ca2+), terjadi unabsorpable complex.
-          Antasid (Al atau Mg) hidroksida, maka terjadi penurunan absorbsi dari Ciprofloxacin membentuk kompleks sehingga susah diserap.
d)     Obat yang menginduksi mukosa (mukosa menjadi rusak)
Contoh : agen antineoplastic (Cyclophosphamide, Vincristine, Procarbazine) akan menghambat absorbsi dari digoksin.
e)      Perubahan Motilitas
Contoh : Metoklopramid ( antiemitic/ antimual) akan meningkatkan absorbsi dari Cyclosporine diikuti peningkatan pengosongan lambung sehingga mengakibatkan peningkatan toksisitas dari Cyclosporine.
f)       Ikatan protein yang dipindahkan
Contoh : ikatan protein tinggi Phenytoin (90%), Tolbutamide (96%), dan warfarin (99%) akan memindahkan agent Aspirin, sulfonamid, penilbutason.
g)      Perubahan metabolisme
Metabolisme obat yang utama terjadi di hati. Sitokrom P 450 merupakan enzim metabolisme terpenting di fase 1 ( proses oksidasi).

2.      Induksi Enzim
Suatu obat (presipitan) dapat memacu metabolisme obat lain (obat obyek) sehingga mempercepat eliminasi obat tersebut. Kenaikan kecepatan eliminasi (pembuangan atau inaktivasi) akan diikuti dengan menurunnya kadar obat dalam darah dengan segala konsekuensinya. Obat-obat yang dapat memacu enzim metabolisme obat disebut sebagai enzyme inducer.

Dikenal beberapa obat yang mempunyai sifat pemacu enzim ini yakni:
·       Rifampisin,
·       Antiepileptika: fenitoin, karbamasepin, fenobarbital.
Dari berbagai reaksi metabolisme obat, maka reaksi oksidasi fase I yang dikatalisir oleh enzim sitokrom P-450 dalam mikrosom hepar yang paling banyak dan paling mudah dipicu.
3.      Penghambatan enzim (enzyme inhibitor).
Metabolisme suatu obat juga dapat dihambat oleh obat lain. Obat-obat yang punya kemampuan untuk menghambat enzim yang memetabolisir obat lain dikenal sebagai penghambat enzim (enzyme inhibitor). Akibat dari penghambatan metabolisme obat ini adalah meningkatnya kadar obat dalam darah dengan segala konsekuensinya, oleh karena terhambatnya proses eliminasi obat. Obat-obat yang dikenal dapat menghambat aktifitas enzim metabolisme obat adalah:
·       kloramfenikol
·       isoniazid
·       simetidin
·       propanolol
·       eritromisin
·       fenilbutason
·       alopurinol, dll.
Tergantung dari jenis obat obyek yang mengalami interaksi, yakni terutama obat dengan lingkup terapi yang sempit, maka interaksi metabolisme dapat membawa dampak merugikan. Umumnya secara ringkas dapat dikatakan bahwa :
·       Pemacuan enzim akan berakibat kegagalan terapi, karena kadar optimal tidak tercapai.
·       Penghambatan enzim akan berakibat mengingkatnya kadar obat melampaui ambang toksik.
Contoh :
-  Eritomisin menghambat metabolisme dari Astemizole dan Terfenadine sehingga mengakibatkan peningkatan konsentrasi serum antihistamin dan peningkatan kardiotoksik.
-          Omeprazole menghambat oksidasi metabolisme dari Diazepam.


4.      Renal ekskresi
Interaksi obat atau metabolitnya melalui organ ekskresi terutama ginjal dapat dipengaruhi oleh obat-obat lain. Yang paling dikenal adalah interaksi antara probenesid dengan penisilin melalui kompetisi sekresi tubuli sehinggan proses
sekresi penisilin terhambat, maka kadaar penisilin dapat dipertahankan dalam tubuh. Interaksi probenisid dan penisilin adalah contoh interaksi yang menguntungkan secara terapetik. Klinidin juga menghambat sekresi aktif digoksin dengan akibat peningkatan kadar digoksin dalam darah, kira-kira sampai 2 kali, sehingga terjadi peningkatan kejadian efek toksik digoksin. Salisilat menghambat sekresi aktif metotreksat. Obat-obat diuretika menyebabkan retensi lithium karena hambatan pada proses ekskresinya. Furosemid juga dapat meningkatkan efek toksik ginjal dari aminoglikosida,kemungkinan oleh karena perubahan ekskresi aminoglkosida.

B.     Interaksi Farmakodinamika
Interaksi ini terjadi bila sesuatu obat secara langsung merubah aksi molekuler atau kerja fisiologis obat lain. Kemungkinan yang dapat terjadi :
1.                   Obat-obat tersebut menghasilkan kerja yang sama pada satu organ sinergisme).
2.                   Obat-obat tersebut kerjanya saling bertentangan ( antagonisme ).
3.                   Obat-obat tersebut bekerja independen pada dua tempat terpisah.
Interaksi farmakodinamik berbeda dengan interaksi farmakokinetik. Pada interaksi farmakokinetik terjadi perubahan kadar obat obyek oleh karena perubahan pada proses absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat. Pada interaksi farmakodinamik tidak terjadi perubahan kadar obat obyek dalam darah. Tetapi yang terjadi adalah perubahan efek obat obyek yang disebabkan oleh obat presipitan karena pengaruhnya pada tempat kerja obat. Interaksi farmakodinamik dapat dibedakan menjadi, \ Interaksi langsung (direct interaction) \ Interaksi tidak langsung (indirect interaction)

a.       Interaksi langsung
Interaksi langsung terjadi apabila dua obat atau lebih bekerja pada tempat atau reseptor yang sama, atau bekerja pada tempat yang berbeda tetapi dengan hasil efek akhir yang sama atau hampir sama. Interaksi dua obat pada tempat yang sama dapat tampil sebagai antagonisme atau sinergisme. Interaksi langsung ini dapat terbagi lebih lanjut sebagai berikut.


1) Antagonisme pada tempat yang sama
Antagonisme adalah keadaan dimana efek dua obat pada tempat yang sama saling berlawanan atau menetralkan. Banyak contoh interaksi seperti ini, misalnya:
·                      Pembalikan (penetralan) efek opiat oleh obat nalokson.
·                      Pengobatan aritma yang disebabkan intoksikasi antidepresan triklisik dengan obat fisotigmin.
·                      Pengobatan keracunan pestisida organofosfat dengan sulfas atropin untuk menetralisir efek-efek kolinergik yang terjadi.

2) Sinergisme pada tempat yang sama
Sinergisme adalah interkasi di mana efek dua obat yang bekerja pada tempat yang sama saling memperkuat. Walaupun banyak contoh interaksi yang merugikan dengan mekanisme ini tetapi banyak pula interaksi yang menguntungkan secara terapetik.
Contoh-contoh interaksi ini, misalnya:
  • Efek obat pelemas otot depolarisasi (depolarizing muscle relaxants) akan diperkuat/ diperberat oleh antibiotika aminoglikosida, kolistin dan polimiksin karena keduanya bekerja pada tempat yang sama yakni pada motor end plate otot seran lintang.
  • Kombinasi obat beta-blocker dan Ca ++-channel blocker seperti verapamil dapat menyebabkan aritmia/asistole. Keduanya bekerja pada jaringan konduksi otot jantung yang sama.

3) Sinergisme pada tempat yang berbeda dari efek yang sama atau hampir sama.
Obat-obat dengan efek akhir yang sama atau hampir sama, walaupun tempat kerja ata reseptornya berlainan, kalau diberikan bersamaan akan memberikan efek yang saling memperkuat. Misalnya :
  • Alkohol dan obat-obat yang berpengaruh terhadap susunan saraf pusat,
  • Antara berbagai obat yang punya efek yang sama terhadap susunan saraf pusat, misalnya depresi susunan saraf pusat.
  • Kombinasi antibiotika, misalnya penisilin dan aminoglikosida
  • Kombinasi beberapa obat antihipertensi

b.      Interaksi tidak langsung
Interkasi tidak langsung terjadi bila obat presipitan punya efek yang berbeda dengan obat obyek, tetapi efek obat presipitan tersebut akhirnya dapat mengubah efek obat obyek. Beberapa contoh antara lain :
  • Interaksi antara obat-obat yang mengganggu agregasi trombosit (salisilat, fenilbutason, ibuprofen, dipiridamol, asam mefenamat, dll.) dengan obat-obat antikoagolan seperti warfarin sehingga kemungkinan perdarahan lebih besar oleh karena gangguan proses hemostasis.
  • Obat-obat yang menyebabkan perlukaan gastrointestinal seperti aspirin, fenilbutason, indometasin, dan obat – obat antiinflamasi non-steroid yang lain, bila diberikan pada pasien-pasien yang sedang mendapatkan antikoagulansia seperti warfarin, maka dapat terjadi perdarahan yang masif dari perlukaan tadi.
  • Obat-obat yang menurunkan kadar kalium akan menyebabkan peningkatan efek toksik glikosida jantung digoksin. Efek toksik glikosida jantung ini lebih besar pada keadaan hipokalemia. Tetapi sebaliknya hipokalemia akan mengurangi efek klinik obat-obat antiaritmia seperti lidokain, prokainamid, kinidin, dan fenitoin. Obat presipitan yang mengurangi kadar kalium terutama adalah diuretika.
  • Efek diuresis obat-obat diuretika tertentu seperti furosemid akan berkurang bila diberikan bersama dengan obat – obat antiinflamasi non-steroid seperti aspirin, fenilbutason, ibuprofen, indometasin, dll. Kemungkinan oleh karena penghambatan simtesis prostaglandin oleh obat-obat presipitan tersebut, yang sebenarnya diperlukan untuk menimbulkan efek diuretika furosemid.
Interaksi obat cukup penting untuk diperhatikan namun cenderung terlupakan karena banyak terlalu fokus pada penyakit yang kompleks sehingga melupakan obat-obat tersebut dapat berinteraksi satu dengan yang lain. Interaksi obat kerap terjadi akibat penggunaan banyak obat, sehingga membahayakan nyawa pasien itu sendiri.
Interaksi yang kerap terjadi biasanya adalah interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Farmakodinamik dapat diartikan efek obat terhadap tubuh sedangkan farmakokinetik adalah nasib obat dalam tubuh.
Contoh interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara 2 atau lebih obat yang mengakibatkan adanya kompetensi dalam pendudukan reseptor sehingga meniadakan salah satu efek dari obat yang digunakan.
Sedangkan contoh dari interaksi farmakokinetik adalah interaksi yang 2 obat atau lebih yang mengakibatkan obat tertentu cepat dibuang dalam tubuh atau lambat dibuang dalam tubuh, akibatnya waktu paruh obat menjadi berbeda dari biasanya.
Akibat dari interaksi obat :
  • Efek Sinergis : 1 + 1 = 10
    Obat A dan obat B digunakan bersamaan sehingga memberikan efek yang berlipat ganda.
  • Efek Antagonis : 1 + 1 = 1
    Obat A dan obat B digunakan bersamaan sehingga memberikan efek meniadakan salah satu dari efek obat.
  • Efek Additif : 1 + 1 = 2
    Obat A dan obat B digunakan bersamaan sehingga memberikan efek ganda.
Dalam menyikapi interaksi obat ini, hal2 yang perlu diakali adalah cara pencegahan terjadinya interaksi dengan “memainkan” waktu pemberian obat, misal Obat A diberikan pada jam 8 dan obat B diberikan pada jam 12.
Ada juga teknik-teknik lain dalam mengakali adalah meningkatkan / menurunkan dosis pemberian obat ketika waktu pemberian obat tidak dapat diubah. Misal dosis obat A karena dapat dinetralkan oleh obat B maka dosis obat A diberikan berlebih.






0 komentar:

Poskan Komentar


Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini